Mazmur 92:13
Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
Pendahuluan
Pemazmur menggambarkan kehidupan orang benar itu seperti tunas pohon korma. Mengapa seperti tunas pohon korma? Sebab pohon korma bertumbuh dengan cara yang berbeda dengan pohon-pohon yang lain. Dalam menanam kurma, para petani akan menggali tanah kira-kira satu sampai dua meter, kemudian menaburkan benih korma, lalu menimbun dengan tanah serta meletakan batu di atas timbunan tanah itu. Hal ini dimaksudkan agar sebelum pohon korma mengeluarkan tunas ke atas, pertama-tama benih akan menumbuhkan akarnya ke bawah.
Itulah sebabnya pohon korma memiliki ketahanan yang luar biasa. Korma mampu bertahan hidup di pandang gurun yang tandus, kering dan minim sumber mata air. Pohon korma tetap tegak meski badai gurun dan angin topan menghantamnya. Semuanya ini bisa terjadi sebab korma memiliki akar yang dalam.
MENGAPA AKAR HARUS DALAM?
Demikian juga dalam kekristenan. Sebagai orang percaya kita harus memiliki agar iman yang makin dalam karena akar penentu kehidupan. Ketahuilah hidup dan matinya sebuah tanaman ditentukan oleh akarnya. Kegagalan mengakar menyebabkan kegagalan untuk bertumbuh, kegagalan bertumbuh menyebabkan kegagalan menghasilkan buah.
RADIKAL
Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), dalam bahasa Latin kata “akar” ditulis dengan kata: radix atau radici. Artinya hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, esensial, atau juga bisa bermakna “tidak biasanya” (unconventional). Dari kata ‘radic’ munculah kata “radical.” Jadi orang-orang yang radikal adalah orang-orang yang fokus kepada hal-hal yang mendasar, mereka memegang prinsip dengan teguh dan tidak mudah diganggu gugat. Itulah sebabnya kadang-kadang kita lihat orang yang radikal tindakannya sangat ekstrim, berani dan “pokoke”. Jika pengiringan kita kepada Tuhan biasa-biasa saja, tidak radikal, jangan-jangan kita salah dalam akar kekristenan kita. Untuk itu mari kita periksa kembali akar iman kita.
Sadarilah, akar adalah penentu kehidupan. Dalam Matius 13:4-8 tentang perumpamaan seorang penabur, semuanya itu bicara tentang akar bukan benih yang ditaburkan. Benih yang ditaburkan adalah benih unggul, kualitas nomor satu. Namun masalahnya adalah akarnya tidak sehat, sehingga tidak tumbuh.
Mari kita lihat satu persatu.
- Tanah pinggir jalan
Tanahnya keras, benih yang tidak sempat berakar akibatnya tidak ada kehidupan.
- Tanah yang berbatu-batu.
Tanahnya tipis karena berbatu-batu, akarnya tidak dalam akibatnya tanaman layu dan kering.
- Tanah yang bersemak duri
Akarnya tidak sehat karena dihimpit semak duri akibatnya tanaman mati.
- Tanah yang subur
Benih yang jatuh di tanah yang subur, akarnya ke dalam. Ia bertumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang lebat.
KUALITAS HIDUP KITA, DITENTUKAN OLEH KUALITAS AKAR KITA
Sekali lagi saya katakan: kualitas kehidupan kita ditentukan oleh akar kita.
– Akar kuat, pohon menjadi kuat
– Akar yang sehat buahnya lebat.
– Akar semakin dalam, semakin kuat untuk bertahan
Ketahuilah, ketakutan kita alami bukan karena besarnya badai yang datang menghantam, tetapi akar kita yang kurang dalam. Orang-orang yang yakin akar imannya dalam, ia tidak pernah takut dengan badai yang datang. Mereka yang akarnya dalam mampu menertawakan badai.
CARA BERAKAR MAKIN DALAM?
1. Beranilah menghadapi kesulitan, tantangan dan persoalan.
Perhatikanlah kembali cara petani menanam korma. Satu-satunya alasan akar korma menembus ke dalam tanah karena di atasnya ada batu yang menindihnya. Bebanlah yang menyebabkan korma menumbuhkan akar ke dalam lebih dahulu.
Percayalah setiap persoalan, semua masalah, kesulitan, ujian dan pencobaan adalah alat Tuhan untuk menumbuhkan akar iman kita makin dalam. Sebab itu syukuri semua kesulitan yang sedang kita alami, karena itu adalah kesempatan yang Tuhan beri untuk menumbuhkan akar iman makin ke dalam.
Roma 5:3,4
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Lihatlah buah dari segala kesengsaraan yang kita alami adalah tahan uji. Kekristenan kita makin kokoh, kuat dan berdaya tahan. Semuanya ini hanya dihasilkan apabila kita bersedia menerima beban, kesulitan dan ujian kehidupan.
Mazmur 119:71
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.
Ingatlah, tukang kayu tidak memukul paku yang bengkok, hanya paku yang lurus yang akan dipukul berulang-ulang hingga tertancap ke dalam. Jika hari-hari ini kita rasanya seperti dipukul dengan berbagai masalah, kesulitan dan ujian, ingatlah Tuhan sedang mendalamkan akar iman kita agar kita tumbuh semakin kuat layaknya paku yang tertancap makin dalam. Pepatah berkata: kita bisa karena biasa, kita kuat karena beban yang berat.
2. Fokuslah kepada perkara-perkara yang tidak kelihatan.
2Korintus 4:18
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.
Sekali lagi perhatikanlah cara petani menanam korma. Karena di atas benih ditindih dengan batu maka benih korma memfokuskan diri untuk tumbuh ke dalam. Setelah akarnya dalam, barulah ia berusaha tumbuh ke atas sehingga mampu menggulingkan batu yang selama ini menindihnya. Fokuslah pada pertumbuhan rohani, hal-hal yang di dalam, sebab yang ada di dalam terletak kekuatan yang sejati. Jangan tergoda untuk segera nampak hebat dan besar, jika akar tidak kuat, justru akan menghancurkan hidup kita. Belajarlah hidup dari filosofi akar.
Filosofi akar
– Tak terlihat tetapi memberi manfaat
– Tersembunyi, tetapi banyak berkontribusi
– Bekerja dalam diam, meski tak pernah menerima pujian
– Tak berhenti bekerja apapun musimnya
3. Jangan berhenti bertumbuh hingga mencapai air.
Ayub 29:19
Akarku mencapai air, dan embun bermalam di atas ranting-rantingku. Akarku mencapai air
Rahasia kekuatan pohon korma adalah ia menumbuhkan akarnya sampai mencapai air barulah menumbuhkan tunasnya ke atas. Inilah penyebab mengapa korma mampu tumbuh di padang gurun yang kering karena akarnya telah mencapai air. Inilah yang dialami Ayub. Ayub seperti pohon korma yang akarnya telah mencapai air. Itulah sebabnya Ayub kuat meski badai besar menghantamnya. Berulang kali menghadapi ujian, kehilangan dan musibah namun Ayub tetap kuat layaknya pohon korma yang tetap berdiri meski dilanda angin badai.
Dari mana Ayub mendapatkan kekuatan yang luar biasa itu? Dari relasinya dengan Tuhan.
Ayub 29:4
seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;
Sejak remaja Ayub telah menumbuhkan akar imannya layaknya korma yang menumbuhkan akarnya hingga mencapai air. Ayub membangun relasi dengan Tuhan sejak kecil, dari hari ke hari ia membangun persekutuan pribadi dengan Tuhan. Ayub bergaul karib dengan Tuhan sejak kecil. Bagaimana dengan kita? Kapan terakhir kali kita berdoa? Kapan terakhir kali baca firman Tuhan? Saat teduh pribadi? Mari kita bangun persekutuan pribadi dengan Tuhan. Percayalah, hanya melalui relasi dengan Tuhan kita akan mendapatkan kekuatan saat menghadapi ujian dan pencobaan. Tuhan memberkati. – KJP!