BERDAYA TAHAN dan BERKEMENANGAN – Oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – 3 April 2022)

YOHANES 18:1-11

PENDAHULUAN
Dalam setiap kisah firman Tuhan memiliki makna yang penting dan kisah saat ini tentang Yesus yang ditangkap. Untuk itu terlebih dahulu kita memperhatikan Yohanes 18:1. Setelah Yesus dan murid-murid-Nya selesai makan Perjamuan Tuhan, Yesus dan para murid-Nya meninggalkan Yerusalem menuju taman Getsemani, yang  sering digunakan Yesus berdoa kepada Bapa. Namun mereka terlebih dahulu menyeberang sungai Kidron, karena apabila dari Yerusalem (bukit Moria) hendak ke taman Getsemani (bukit Zaitun), harus turun ke lembah Kidron lalu menyeberang Sungai Kidron.

ARTI SUNGAI KIDRON
Kidron, berasal dari bahasa Ibrani:  נחל קדרון‎, Qidron dan bahasa Inggris (secara rohani) : OBSCURE, artinya samar-samar atau tidak jelas. Tidak ada penjelasan lebih mengapa diberi sebutan sungai Kidron. Namun dalam firman Allah, segala sesuatu ditulis dengan maksud dan makna yang berarti bagi setiap orang percaya. Saat seseorang percaya Yesus, statusnya adalah: Anak-anak Allah; Pengikut Yesus; Umat Ekklesia yang artinya dipanggil keluar dari gelap kepada terang yang ajaib.

Tuhan Yesus tidak mau ada jemaat yang berstatus sebagai murid atau pengikut Yesus, tapi sikap dan pengiringannya tidak jelas atau samar-samar yang artinya, setia ke gereja namun cara hidupnya tidak menunjukan pengikut Kristus melainkan Tuhan Yesus ingin kita mengekpesikan pengikut Kristus dalam tingkah laku dan perbuatan, saat di gereja maupun di luar gereja. Sampai kita menceritakan, menunjukan dan melakukan, setiap waktu dan saat dinilai sebagai pengikut Yesus karena cara hidup kita. Itu sebabnya Tuhan Yesus membawa ke sungai Kidron untuk menunjukan murid yang sejati dan yang samar-samar.

YUDAS ISKARIOT
Sebelum menyeberangi sungai Kidron, pada pandangan murid-murid Yesus lainnya, Yudas Iskariot itu sangat istimewa. Meskipun dalam pandangan kita, Yudas Iskariot negatif, tetapi pandangan dari 11 murid Yesus lainnya memandang ia begitu istimewa karena ia bergaya hidup samar-samar. Dimana satu sisi ia tampak hebat, tetapi disisi lain ada cara hidup yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Untuk itu, mari perhatikan kisah saat makan perjamuan terakhir dalam Injil Yohanes 13:21-27.

Dalam kisah perjamuan, murid-murid tidak ada yang tahu maksud teguran Yesus tertuju kepada Yudas Iskariot sehingga mereka meminta murid yang dikasihi Yesus untuk menjelaskan siapa yang dimaksud pengkhianat diantara mereka sebab dengan pasti Yesus katakan “seorang diantara kamu”. Maka Yohanes 13:26, Yesus memberikan roti dan anggur khusus kepada Yudas Iskariot kemudian membagikan kepada murid lainnya sehingga sikap Yesus kepada Yudas dianggap hal yang biasa oleh para murid sebab Yudas dipercaya sebagai pemegang kas, tapi sebenarnya Yudas tidak jujur. Yohanes 13:18, Tuhan Yesus mengetahui keadaan setiap murid-Nya. Yesus katakan bahwa “Ia tahun siapa yang IA pilih”. Namun dimata para murid, Yudas Iskariot adalah murid yang hebat dan baik karena ia dapat  menyembunyikan segala trik jahatnya dengan gelar pengikut Yesus, namun kelakukannya hancur. Yudas Iskariot suka mencuri, ia tidak jujur dihadapan rekan pelayanannya termasuk pada Yesus.

Perhatikan kisah dalam Yohanes 12:5,6, dimana seorang wanita yang diampuni dosanya, membawa minyak yang mahal kepada Yesus sebagai wujud rasa syukurnya dan respon Yudas ketika melihat tindakan wanita ini, Yudas segera mendandani dirinya dengan kesamar-samarannya. Mungkin saat mendengar apa yang dikatakan oleh Yudas, hal yang ia sampaikan adalah baik. Namun perhatikan Yohanes 12:6 “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Itu sebabnya Yesus ijinkan ia melewati sungai Kidron terpisah dari para murid, karena dari sana akan terbongkar siapa sebenarnya Yudas.

KESIMPULAN TENTANG YUDAS
Yudas Iskariot adalah pengikut Yesus bahkan pelayan Tuhan. Tapi pengiringan dan pelayanan Yudas Iskariot adalah OBSCURE – samar- samar/pura-pura. Banyak menikmati keuntungan pelayanan dalam kemunafikan, tetapi tidak  ada keinginan/kesadaran untuk bertobat dan dipulihkan sehingga akhir hidup Yudas Iskariot sangat tragis dan menyedihkan. Sesungguhnya Yesus memilih Yudas dengan maksud yang baik. Seiring panggilan Yesus untuk membawanya kepada tujuan Allah, ternyata karena firman Allah katakan bahwa Yudas adalah manusia yang tamak akan uang dan hal itu mengikatnya sampai akhir hidupnya. Matius 27:3-, Yudas menyesali perbuatannya dan mengakui dosanya tetapi karena telah dikuasai roh jahat, maka ia bunuh diri.

Biarlah hal ini menyadarkan kita, bahwa dalam pengiringan kepada Tuhan Yesus, jangan main-main dengan dosa. Bertobat dengan sungguh dihadapan Tuhan, sehingga bukan lagi Kristen yang samar-samar seperti Yudas melainkan saat menerima perjamuan Tuhan, kita terbuka dihadapan Tuhan memohon kasih karunia Tuhan.

Arsip Catatan Khotbah