CAWAN PAHIT KEHIDUPAN (3) : KEGAGALAN – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadha Raya 1 – Minggu, 24 September 2023)

Lukas 5 : 1- 5

Pendahuluan
Hidup adalah campuran antara pahit dan manis. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang selalu beriringan karena keduanya menjadi penentu yang kita rasakan. Manisnya hidup ini dapat kita nikmati manakala kita bersedia menelan segala kepahitan hidup yang terjadi. Semakin pahit pengalaman hidup yang kita alami, semakin manis hidup ini untuk dijalani. Percayalah dibalik segala kepahitan selalu tersimpan rasa manis yang Tuhan berikan, sebaliknya dibalik manisnya kehidupan ada pahit yang memberikan kesimbangan.

Menerima dan menikmati yang manis dalam hidup ini, tentu tidak terlalu sulit, tetapi untuk menerima dan menikmati yang pahit kadang-kadang butuh perjuangan. Kita sudah mempelajari, 2 cawan pahit yang harus kita minum yaitu: Penderitaan dan Pengkhianatan. Sekarang marilah kita pelajari cawan pahit yang ketiga yaitu: KEGAGALAN.

Tidak ada orang yang ingin gagal. Semua orang  mengharapkan keberhasilan dalam segala hal yang dilakukan. Berhasil dalam studi, berhasil dalam usaha atau pekerjaan, berhasil dalam karir, berhasil membangun rumah tangga atau keluarga, berhasil dalam hubungan, dan lain-lain. Namun kenyataannya keberhasilan tidak semudah membalikkan tangan, keinginan untuk berhasil justru berbuah pada kegagalan.

Itulah yang dialami oleh murid-murid Yesus, usaha dan kerja keras yang mereka lakukan justru berbuah kegagalan. Sepanjang malam mereka telah bekerja keras mencari ikan tetapi mereka pulang tanpa hasil tangkapan. Murid-murid mengalami kegagalan. 

Kegagalan memang tidak bisa kita dihindari, kegagalan bisa saja terjadi tetapi masalahnya adalah bagaimana respon kita terhadap kegagalan yang sedang terjadi. Apakah kita meratapi kegagalan atau berusaha mengatasi kegagalan. Dari kisah kegagalan yang dialami murid-murid Yesus, marilah kita belajar cara mengatasi kegagalan.

CARA MENGATASI KEGAGALAN.
1. Sadarilah setiap orang pernah gagal.
Ayat 2  
Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 

Tidak ada orang yang tidak pernah gagal. Dibalik semua keberhasilan selalu tersembunyi kegagalan. Orang-orang yang kita kenal berhasil dan sukses pada saat ini pernah mengalami kegagalan berkali-kali. Simon dan kawan-kawan adalah seorang pelaut ulung, tetapi kenyataannya orang yang jago/hebat menjala ikan juga mengalami kegagalan. Pagi itu setelah turun dari perahu mereka membasuh jalanya karena tidak ada seekor ikanpun yang berhasil mereka tangkap.

Demikian juga dengan tokoh-tokoh di Alkitab seperti: Abraham, Musa, Saul, Daud, Salomo, Elia, Yunus, Thomas, dan lain-lain adalah orang-orang yang tak luput dari kegagalan. Mereka semua pernah mengalami kegagalan. 

Gagal itu biasa, sebab karena kegagalan membuat kita bisa.

Billy Lim menulis sebuah buku yang sangat popular dengan judul Dare to Fail. Dalam buku tersebut ia mencantumkan sebuah survey yang menyatakan bahwa dibutuhkan rata-rata 240 kali proses jatuh bangun dari seorang bayi, sebelum ia mampu berjalan.

Theodore Roosevelt  (Presiden Amerika Serikat ke-26) berkata: “Satu-satunya orang yang tidak pernah melakukan kesalahan  adalah orang yang tidak pernah melakukan apa-apa.” Artinya orang yang tidak akan pernah mengalami kegagalan adalah orang yang tidak melakukan apa-apa. Tetapi mereka yang bekerja, selalu berusaha harus siap menelan cawan pahit kehidupan yaitu kegagalan.

2. Sampaikanlah semua kegagalan kepada Tuhan. 
Ayat 5a  
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, …”

Kegagalan bukan untuk disembunyikan, kegagalan juga bukan untuk ditangisi dan diratapi, kegagalan harus dihadapi dengan berani. Salah satu cara menghadapi kegagalan adalah keberanian mengakui kegagalan dan menyampaikan semua kegagalan kepada Tuhan. Dengan jujur dan terbuka Simon berkata kepada Sang Guru: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, …”

Jangan ceritakan kegagalanmu kepada manusia bila tidak ingin kecewa, sebab manusia lebih cepat menghakimi dari pada mengerti yang kita alami, manusia lebih mudah menyalahkan ketimbang memberi pertolongan, dan tidak semua orang peduli dengan yang kita alami. Ceritakan semua kegagalanmu kepada Tuhan, sebab hanya TUHAN satu-satunya pribadi yang paling mengerti dan memahami apa yang kita hadapi.

Mazmur 37:23,24  
TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

3. Sadarilah bahwa kegagalan adalah titik balik menuju kehidupan yang lebih baik.
Ayat 4  
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 

Kegagalan bukan akhir dari segala-galanya, kegagalan justru menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih baik. Sadarilah bahwa kegagalan mendekatkan kita kepada keberhasilan yang kita impikan. Siapa sangka kegagalan yang dialami murid-murid justru membawa mereka mengalami kehidupan yang lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

Ayat 6  dikatakan: Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 
Kegagalan menghantar murid-murid mengalami mukjizat Tuhan. Perahu yang kosong, menjadi penuh dengan ikan. Sadarilah kegagalan memberikan kesempatan untuk mengalami kuasa Tuhan.

Ayat 7  – Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 
Kegagalan menumbuhkan rasa empati kepada orang lain. Tuhan mengijinkan kita mengalami kegagalan agar saat kita berhasil kita tidak merendahkan orang lain.

Ayat 8 – Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Kegagalan menyadarkan keterbatasan diri sendiri dan melihat kebesaran Tuhan.

4. Bangkitlah dari kegagalan 
Ayat 5  
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Hidup ini memang tidak semua mudah, butuh keberanian dan semangat yang pantang menyerah. Jangan berhenti hanya karena kegagalan telah terjadi atau kesulitan-kesulitan yang dialami.

Simon dan kawan-kawan menyadari bahwa kegagalan bukan sebagai pembatal keinginan untuk mencapai kebesaran dan keberhasilan. Kegagalan adalan tanda-tanda untuk naik tingkat yang lebih tinggi, sama sekali bukan tanda untuk berhenti. Percayalah, kegagalan bukan akhir dari impian, tetapi jalan yang mendekatkan kita kepada keberhasilan.  Jadi, jangan sesali kegagalan yang terjadi, jika gagal beranilah mencoba lagi, jika masih gagal coba kembali, sampai keberhasilan terjadi.

Penutup
Amsal 24:16 
Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. 
Hidup itu seperti seorang petinju. Anda tidak kalah saat jatuh, Anda kalah saat tidak bangkit kembali. Tetap semangat, Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah