Lukas 10:25–37
PENDAHULUAN:
Bayangkan sebuah jalan yang sunyi dan berbahaya. Jalan yang menurun dari Yerusalem menuju Yerikho. Jalan sepanjang sekitar 27 kilometer yang berkelok-kelok melewati padang gurun berbatu, penuh jurang, dan terkenal sebagai tempat persembunyian para penyamun. Banyak orang menyebutnya “Jalan Berdarah”, karena begitu sering para musafir dirampok, dipukuli, bahkan dibunuh di jalan itu
Pada suatu hari, seorang pria berjalan sendirian melewati jalan itu. Ia mungkin sedang pulang menuju rumahnya, keluarganya. Ia mungkin membawa hasil usahanya. Ia mungkin ada keperluan lain. Namun tanpa diduga, sekelompok perampok menyerangnya. Mereka merampas semua miliknya, memukulinya tanpa belas kasihan, lalu meninggalkannya di tepi jalan dalam keadaan setengah mati. Ia tidak mampu berdiri. Ia tidak mampu berteriak. Ia hanya bisa menunggu: Apakah ada seseorang yang akan berhenti dan menolongnya?
LUKA DI TENGAH BANGSA
Apa yang dikisahkan Tuhan Yesus ini, menjadi gambaran tentang bangsa kita. Saat ini bangsa Indonesia seperti seorang yang sedang terluka. Dirampok habis-habisan, dipukuli, dan dibiarkan tergeletak seorang diri.
Coba kita lihat data dari BPS tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2025.
| Indikator | Tahun 2015 | Tahun 2024–2025 | Tren |
| Kasus kejahatan tercatat | ±352 ribu kasus | 561.993 kasus (2024) | ⬆ Meningkat |
| Perceraian | ±347 ribu perkara | ±400 ribu perkara (2024) | ⬆ Meningkat |
| Penyalahguna narkoba | sekitar 2,2 juta orang | 3,33 juta orang (prevalensi 1,73%) | ⬆ Meningkat |
| Judi online | Hampir belum menjadi fenomena nasional | Perputaran dana Rp286,84 triliun (2025) | ⬆ Sangat meningkat |
| Korupsi | Skor Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 36/100 | sekitar 37/100 (2024) | ➜ Relatif stagnan (masih memprihatinkan) |
DATA KESEHATAN MENTAL NASIONAL INDONESIA
| Indikator | Data Nasional |
| Penduduk mengalami gangguan kesehatan mental/emosional | >19 juta orang usia ≥15 tahun |
| Penduduk mengalami depresi | >12 juta orang |
| Remaja mengalami masalah kesehatan mental | 1 dari 3 remaja (34,9%) mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir (I-NAMHS 2022) |
| Remaja dengan gangguan mental yang memenuhi kriteria diagnosis | 1 dari 20 remaja (5,5%) |
| Depresi pada usia 15–24 tahun (SKI 2023) | 2%, lebih tinggi dari prevalensi nasional 1,4% |
| Penyalahguna narkoba | 3,3 juta orang (usia 15–64 tahun) |
Dari data yang sudah kita lihat betapa besarnya luka bangsa ini. Sebagai anak-anak Tuhan yang hidup di Indonesia apakah yang harus kita lakukan?
ANDA DIPANGGIL UNTUK MELAYANI
Di tengah luka bangsa Indonesia, apa respon kita? Sebagian orang mungkin “MENGELUH” kenapa begini? Sebagian lagi memilih “DIAM” yang penting aku baik-baik saja. Dan yang lain memilih “MENGUTUK” kondisi bangsa. Tetapi kita anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk melayani negeri ini. Berhentilah mengeluh, apalagi mengutuk dan jangan diam, jangan hanya menonton kerusakan negeri ini, saatnya bertindak bagi kota dan bangsa. Waktunya gereja Tuhan beraksi bagi kota dan bangsa.
Ada contoh yang baik dari Nehemia ketika melihat kehancuran bangsanya.
Nehemia 1:4
Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,
Ketika mendengar berita dari Hanani, tentang kotanya, tentang bangsanya dan tentang Yerusalem, maka inilah yang dilakukan Yeremia: “duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.”
Seharusnya hal yang sama dilakukan gereja Tuhan. Gereja seharusnya berduka melihat bangsanya terluka. Yerusalem yang dihancurkan, dan temboknya terbakar, ini bukan sekedar bangunan yang dihancurkan tetapi tatanan spiritual, moral bangsa yang hancurkan, identitas dan kedaulatan bangsa juga sedang dihancurkan. Oleh sebab itu pertama-tama dilakukan Yeremia: Duduk – bukan karena menyerah, ia melihat bangsanya sudah mulai kehilangan arah. Aku menangis – Kehancuran negeri sudah sangat parah. Sebagian orang berada di negeri pembuangan, anak-anak kehilangan orang tua, suami kehilangan keluarga, kehilangan tempat beribadah. Aku berkabung – Melihat kejujuran diperjualbelikan, kasih digantikan kebencian, kebenaran dikalahkan kepentingan. Aku berpuasa – Ia sadar bangsanya butuh belas kasihan Tuhan. Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan pidato, bangsa ini membutuhkan hadirat Allah. Aku berdoa – Ia tahu doa memberikan harapan, hanya dengan doa pemulihan akan terjadi. Apa yang tidak sanggup dilakukan menusia, Tuhan sanggup melakukannya.
Yeremia 8:21,22
Karena luka puteri bangsaku hatiku luka; aku berkabung, kedahsyatan telah menyergap aku. Tidak adakah balsam di Gilead? Tidak adakah tabib di sana? Mengapakah belum datang juga kesembuhan luka puteri bangsaku?
Yeremia 8:21-22 (BIMK)
Hatiku remuk karena bangsaku sakit parah; aku berkabung dan gelisah. Apa gerangan yang menyebabkan sehingga bangsaku sampai sekarang belum juga sembuh? Apakah di seluruh Gilead, tak ada dokter atau obat?
BAGAIMANA KITA MELAYANI BANGSA INI?
1. MELAYANI BANGSA DIMULAI DENGAN MEMILIKI HATI YANG TERGERAK OLEH BELAS KASIH
Lukas 10:33
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Melayani bangsa ini dimulai dari hati yang dipenuhi belas kasihan. Tanpa hati yang penuh berbelas kasihan, kita hanya akan jadi seperti imam, dan orang Lewi. Mereka melihat orang yang terluka tetapi tidak menolongnya. Mereka lihat tetapi hanya lewat.
Lalu datanglah seorang Samaria. Bagi orang Yahudi, orang Samaria bukanlah sahabat. Mereka dianggap najis, sesat, dan tidak layak dihormati. Selama ratusan tahun, permusuhan antara Yahudi dan Samaria telah menjadi tembok yang sulit diruntuhkan. Tidak ada seorang pun yang membayangkan bahwa tokoh yang dibenci itu justru akan menjadi pahlawan bagi orang yang terluka.
Ketika orang Samaria itu melihat korban yang terluka, Alkitab berkata: “Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
Belas kasihan membuatnya berhenti.
Belas kasihan membuatnya turun dari keledainya.
Belas kasihan membuatnya menyentuh tubuh yang berlumuran darah.
Ia membersihkan luka-lukanya dengan minyak dan anggur. Ia membalutnya. Ia mengangkat orang itu ke atas keledainya sendiri. Ia mengantar ke penginapan. Ia membayar biaya perawatannya. Bahkan sebelum pergi, ia berkata kepada pemilik penginapan, “Rawatlah dia. Jika ada biaya tambahan, aku akan menggantinya ketika aku kembali.”
Belas kasihan adalah hati Allah. Yesus berkali-kali “tergerak hati-Nya oleh belas kasihan” (Matius 9:36; Markus 6:34).
Indonesia hari ini membutuhkan hati yang penuh belas kasihan, bukan kritikan, bukan saling menyalahkan, ujaran kebencian, melainkan hati yang digerakkan oleh kasih Kristus. Belas kasihan merubah kasih menjadi tindakan. Kasih sejati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi pada tindakan nyata.
Mother Teresa
“Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Tetapi kita semua dapat melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.”
2. MELAYANI BANGSA MEMBUTUHKAN PENGORBANAN
Lukas 10:34, 35
Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Perhatikan tindakan orang Samaria. Ia berhenti. Ia turun. Ia membalut luka. Ia menuang minyak. Ia menuang anggur. Ia menaikkan korban ke atas keledainya. Ia mengantar ke penginapan. Ia membayar biaya penginapan bahkan Ia berjanji akan membayar kembali jika ada yang kurang.
Kasih selalu mempunyai harga yang harus dibayar yaitu pengorbanan. Tidak ada pelayanan tanpa pengorbanan. Orang-orang yang bersedia melayani kota dan bangsa harus siap dengan pengorbanan.
Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Untuk melayani kita, Yesus rela tinggalkan sorga yang mulia, menjadi manusia, menjalani hidup seperti kita bahkan mati di kayu salib. Bagaimana dengan kita? Pertanyaan yang wajib kita renungkan. Kita lahir di Indonesia, tapi apakah Indonesia lahir di hati kita?
Roma 9:3
Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.
3. MELAYANI BANGSA BERARTI BERANI MENYEBERANGI BATAS
Orang Samaria adalah musuh orang Yahudi. Hubungan mereka dipenuhi kebencian selama ratusan tahun. Tetapi justru orang Samaria yang berhenti dan menolong orang yang terluka. Seorang yang dianggap musuh menjadi saudara yang membantu sesama.
Kita hidup di Indonesia yang terdiri dari ratusan suku, kaum, bahasa, budaya, dan agama. Perbedaan-perbedaan ini tidak boleh menjadi tembok yang memisahkan, tetapi harus menjadi jembatan untuk saling mengenal, menghormati, dan melayani.
Perbedaan bukanlah ancaman. Perbedaan adalah anugerah Tuhan bagi bangsa ini.
Masalahnya bukan karena kita berbeda. Masalahnya adalah ketika kita membiarkan perbedaan melahirkan prasangka, kebencian, dan ketidakpedulian. Bukankah itulah yang terjadi pada zaman Yesus? Orang Yahudi memandang rendah orang Samaria. Orang Samaria pun menyimpan luka sejarah terhadap orang Yahudi. Selama berabad-abad, mereka hidup dalam tembok permusuhan.
Sebagai gereja Tuhan, kita dipanggil untuk membawa damai yang menghadirkan kasih Kristus kepada semua orang. Bukan sekadar menjadi terang di dalam gedung ibadah, tetapi menjadi terang di tengah kota. Bukan hanya mengucapkan, “Tuhan memberkati Indonesia,” tetapi menjadi saluran berkat bagi Indonesia. Sebab bangsa ini tidak akan dipersatukan hanya oleh semboyan. Bangsa ini akan semakin kuat ketika anak-anak Tuhan hidup dalam kasih, menjadi garam dan terang, serta menghadirkan Kristus di setiap tempat di mana Tuhan mengutus mereka.
Matius 22:39
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Kutipan
Martin Luther King Jr.
“Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan; hanya terang yang dapat melakukannya. Kebencian tidak dapat mengusir kebencian; hanya kasih yang dapat melakukannya.”
PENUTUP
Pada akhir cerita, Yesus berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37).
Indonesia tidak hanya membutuhkan gereja yang penuh aktivitas. Indonesia membutuhkan gereja yang penuh belas kasihan. Kota kita membutuhkan lebih banyak “orang Samaria” yang rela berhenti, mendekat, menyentuh, mengangkat, dan membalut luka bangsa ini. “Apakah engkau mau menjadi sesama bagi kota dan bangsamu?”
Jangan hanya menjadi penonton luka bangsa. Jangan hanya menjadi pengkritik keadaan. Jadilah tangan Kristus yang mengangkat mereka yang jatuh, membalut yang terluka, mengobati mereka yang sakit. Amin. Tuhan memberkati. KJP!