JEJAK KETELADANAN seri 1& 2 – Oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 14 Agustus 2022)

 1 Timotius 4 : 12
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”

Pendahuluan
“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.”
Kalimat, jangan seorangpun, ditulis dalam bentuk kalimat Negative Particle, artinya : Menghentikan tindakan yang sedang dalam proses. Istilah “muda” dalam budaya Romawi dan Yunani pada waktu itu merujuk kepada seseorang, sampai usia 40 tahun.

Kata “muda” dalam ayat ini, dalam tulisan bahasa aslinya memiliki arti yang lebih luas. Disini kita melihat kata “muda” dalam bahasa aslinya ditulis NEOTES, yang memiliki tiga pengertian yaitu:

  • Orang yang jumlah usianya lebih sedikit dibanding orang lain.
  • Pemain baru, atau orang baru dalam sebuah komunitas.
  • Orang-orang yang sedang mengalami proses regenerasi.

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah” Kata “rendah” digunakan kata FRONEO, yang memiliki pengertian yaitu:

  • Ditantang; dilawan.
  • Tidak akan dipikirkan.

“Jadilah teladan”   
Kata “Teladan” menggunakan kata TIPOS/TUPOS, yang artinya adalah:sebuah model; pola; cara; pengajaran yang dapat dicontoh. Itu bisa dikatakan demikian  karena memiliki tanda bekas luka yang sudah sembuh.

Jadi untuk memiliki tanda keteladanan, ada urutannya yaitu sebagai berikut:
LUKA -> SEMBUH -> MEMILIKI TANDA BEKAS LUKA -> BERPOTENSI MEMILIKI TELADAN YANG BAIK

  • Pengalaman memiliki LUKA
  • SEMBUH dari luka yang diderita
  • Memiliki BEKAS LUKA
  • Berpotensi menjadi teladan yang baik

Kenapa bisa menjadi teladan? Karena orang yang sakit, cenderung akan menyakiti orang lain jika ia tidak disembuhkan sakitnya. Karena orang yang luka, cenderung melukai orang lain jika lukanya tidak disembuhkan.

Kondisi Manusia
Sebelumnya mari kita melihat kondisi manusia. Setiap manusia memiliki lukanya masing-masing, oleh sebab apa saudara?

 Roma 3:23
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Jadi artinya adalah semua orang itu telah sakit. Aslinya tidak ada orang yang sehat, semuanya telah sakit, semuanya telah terluka karena DOSA. Namun secara keseluruhan, Yesus sudah mengatasi penyakit dosa kita lewat penebusan di kayu salib, akan tetapi dalam area kehidupan pribadi, kita harus mengejar kesembuhan dari tabiat kedagingan yang melukai kita.

Sebagai orang percaya, kita harus sembuh dari semua sakit dan luka batin kita, sehingga sakit dan luka itu hanya akan tinggal menjadi bekas luka dan menjadi sembuh. Ketika kita mempunyai sebuah bekas luka, ketika itu ditekan / disentuh pasti sudah tidak terasa sakit lagi karena sudah sembuh walaupun masih ada tanda bekas lukanya. Demikian pula dengan orang yang mempunyai bekas luka batin yang telah sembuh, orang tersebut sangat berpotensi untuk menjadi teladan bagi orang lain yang akan menguatkan orang lain, yang akan membantu orang yang sedang terluka untuk bisa disembuhkan secara total.

Contoh teladan dari Tuhan Yesus
Dalam kita melalui proses penyembuhan luka, kita haruslah melihat teladan dari Tuhan Yesus, yang terdapat dalam:
1 Petrus 2:23
“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki, ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”

Perintah-Nya kepada kita
1 Petrus 3:9
“Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”

Bagaimana kita bisa sembuh dari luka?
Mazmur 119:107
“Aku sangat tertindas, ya Tuhan, hidupkanlah aku sesuai dengan firman-Mu”

 Kata “Tertindas” dalam bahasa Ibrani ANNE, artinya = Sangat terluka, tertekan, depresi
Kata  “Hidupkanlah” = HAYA, artinya = Sembuhkanlah saya dari luka oleh firman-Nya.

Mazmur. 119:71
“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu”
Mengapa memiliki pengalaman tertindas / terluka itu baik ? Yaitu agar kita dapat belajar ketetapan-ketetapan Tuhan.

1 Tesalonika 5:23
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Galatia 6:1
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

Jadi saudaraku yang terkasih, kesimpulannya adalah orang yang dapat menjadi teladan adalah orang yang memiliki tanda bekas luka yang telah disembuhkan oleh firman Tuhan, orang itu menghidupi firman Tuhan yang datang dalam kehidupannya. Ketika firman Tuhan berkata ampunilah orang yang telah bersalah kepadamu, maka haruslah kita mengampuni; ketika firman Tuhan berkata jangan iri hati terhadap kehidupan orang lain, maka kita haruslah untuk tidak iri hati kepada kehidupan orang lain; dan ketika firman Tuhan berkata kita harus bersyukur dan bersukacita dan jangan suka mengeluh, maka haruslah kita jangan bersungut-sungut melainkan kita tetap bersyukur dan bersukacita dalam segala musim di hidup kita.
Amin!

Arsip Catatan Khotbah