JEJAK KETELADANAN YESUS (BAGIAN 6) – Oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 9 Oktober 2022)

Yohanes 13:3-5
“Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan Kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatnya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan Air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.”

TINJAUAN TRADISI 
Cara berpakaian dengan mengikatkan kain pada pinggangnya, adalah cara berpakaian dari seorang budak atau pelayan pada waktu itu atau di zaman itu. Pada peristiwa ini, Yesus memposisikan diri sebagai seorang hamba yang merendahkan diri-Nya untuk melayani.

Pada zaman itu, ada tingkatan atau level budak atau pelayan yang melayani. Level yang terendah adalah pelayan pembasuh kaki. Budak atau pelayan pada level terendah ini, umumnya adalah mereka yang dianggap sudah tidak produktif yang usianya sudah tua, selain itu juga yang alami cacat. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang sudah tidak maksimal untuk tugas yang lain.

TELADAN YESUS
Sewaktu Yesus menghamba untuk melayani, Ia tidak mengambil posisi hamba pada level tertinggi, tetapi yang terendah paling bawah, yaitu membasuh kaki. Disana Yesus bukan saja merendahkan diri, namun Ia benar-benar menghampakan diri-Nya sendiri.

Filipi 2:7
“Melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia”

Kalimat “telah mengosongkan diri-Nya” dalam terjemahan KJV ditulis : BUT MADE HIMSELF OF NO REPUTATION, yang artinya Yesus membuat diri-Nya tanpa reputasi, untuk melayani, benar-benar menghampakan diri, dan tidak ada motivasi yang tersembunyi. Kata reputasi juga sama artinya dengan “citra”. Yesus tidak melakukan pencitraan, tetapi sepenuhnya menghamba.

Apa yang Yesus lakukan ini adalah sebagai teladan untuk diwariskan kepada kita dalam melayani. Yesus mau kita bukan sekedar mengikuti jejak-Nya, tetapi juga menjadi sama seperti Dia dalam melayani.

PELAYANAN MEMBASUH KAKI
Apa tujuan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya?  Tujuannya adalah pentahiran supaya bersih. Kaki adalah perjalanan kehidupan kita termasuk pelayanan kita, meliputi tingkah laku dan karakter kita yang harus dibasuh bersih agar tahir.

Ada nilai-nilai penting yang sedang Tuhan ajarkan kepada kita, yaitu hidup merendahkan diri, menghamba, melayani dan selalu ada pada posisi bersih atau tahir di hadapan Allah dan manusia. Hal ini sangat penting. Dimana letak pentingnya? Kita lihat dulu tanggapan Petrus ketika ia akan dicuci kakinya oleh Yesus.

TANGGAPAN PETRUS
Yohanes 13:8
“Kata Petrus kepada-Nya : Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya. Jawab Yesus : Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.”                                                                                                                                                          

Mengapa Petrus mengucapkan pernyataan Engkau tidak akan membasuh kakiku selama-lamanya? Karena apa yang dilakukan Yesus itu tidaklah semestinya (Proper). Yesus yang adalah Tuhan, tuan dan guru yang seharusnya dilayani. (Ay.14-17).

Jawab Yesus : Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku. Kata “Bagian”  dalam bahasa Yunani: MEROS atau MEROMAI artinya jatah atau tempat dalam dalam Yesus. Yesus sedang memberi tahu kepada Petrus, bahwa jika Ia tidak Merendahkan diri, Menghamba, Melayani dan membasuh kakinya Petrus agar menjadi tahir, maka Petrus tidak akan mendapat bagian dalam Diri-Nya.  Demikian juga jika Tuhan tidak lakukan itu kepada kita, maka kita semua tidak akan pernah mendapat bagian dalam kerajaan Sorga.  Yesus sudah memberikan teladan ini bagi kita untuk juga kita lakukan.

Yohanes 13:14-15 – “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Konsekuensinya adalah apakah dalam seluruh kepemilikan hidup kita, ada dalam posisi Merendahkan diri, Menghamba, Melayani dan Menjadi tahir bagi Tuhan dan manusia ?  Jika semua karakter ini tidak ada, maka kita tidak akan pernah diakui sebagai bagian dari Kerajaan Allah.

Kata “ Bagian atau Meros / Meromai” juga memiliki arti : PENGHORMATAN DARI ALLAH. Orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan penghormatan dari Allah. Siapapun bisa saja mendapatkan  penghormatan dari orang lain dengan berbagai cara.  Tetapi untuk mendapatkan penghormatan dari Allah bukanlah perkara yang sembarangan. Hanya orang yang bersedia merendahkan diri, menghamba, melayani dan hidup dalam pentahiran  yang mendapat perhatian Tuhan.

Yohanes 12:26 – “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Orang sombong, yang mengedepankan reputasi diri untuk mendapatkan penghormatan manusia, bukan saja tidak dianggap oleh Tuhan, tetapi juga tidak dikenal Tuhan dan dinilai sebagai pembuat kejahatan.

Matius 7: 22-23 –“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku Tuhan, Tuhan, bukakah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”

Bagaimana seseorang dapat mendeteksi dirinya sudah tahir / bersih atau belum?  Hal ini mudah untuk dideteksi, misal apakah masih ada kebencian, amarah yang belum kita bereskan, jika ada berarti hati kita tidak tahir. Apakah dalam melayani kita masih bergantung pada pengakuan atau acungan jempol orang lain, itu berarti hati kita belum tahir. Orang yang tahir hatinya tidak pernah memperdulikan apakah dirinya dipuji atau tidak, fokusnya pada melayani sebaik mungkin. Kitab Wahyu menggambarkan bagaimana kondisi orang percaya yang hatinya tahir sepenuhnya.

Wahyu 4:6 – “ Dan dihadapan takht aitu ada lautan kaca bagaikan kristal, ditengah-tengah takhta itu dan disekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan disebelah belakang.”

Laut berbicara tentang kumpulan orang banyak, laut kaca adalah kumpulan orang percaya yang telah ditahirkan oleh darah Yesus, sehingga ketika berada dihadapan Allah mereka transparan, bening tanpa cacat mulia bagaikan kristal dan mendapat penghormatan yang begitu tinggi dihadapan takhta Allah.

Arsip Catatan Khotbah