PELAYAN TUHAN YANG SETIA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 22 Agustus 2026)

Matius 24:45–51

PENDAHULUAN
Saya sudah katakan kepada jemaat dalam beberapa kesempatan bahwa ada dua hal penting yang perlu kita pahami:
1. IMAN YANG MENGHASILKAN KESELAMATAN
Keselamatan kita terima dari Tuhan sebagai anugerah/pemberian Tuhan bagi kita. Oleh iman kepada Yesus yang mati bagi kita, kita dijamin selamat. Keselamatan bukan hasil dari usaha manusia, tetapi merupakan pemberian Tuhan yang kita terima melalui iman kepada Yesus Kristus.

2. MAHKOTA KEMULIAAN
Mahkota kemuliaan kita terima dari Tuhan sebagai:
•          Upah
•          Pahala dari ibadah
•          Pelayanan
•          Pengabdian
•          Pengorbanan
Atas apa yang kita buat bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya selama kita hidup, mengiring serta melayani Yesus di sepanjang hidup, yang Yesus percayakan bagi kita di muka bumi.

II. HARUS DILAKUKAN DENGAN SETIA
Kedua hal tersebut, yaitu:
– Iman akan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus di kayu salib.
– Pelayanan serta pengabdian yang kita lakukan selama pengiringan kita kepada Tuhan Yesus.
Keduanya harus kita buat dan kerjakan dengan: setia dan dengan motivasi kasih.

Jadi, kehidupan orang percaya bukan hanya berbicara tentang menerima keselamatan, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan setelah menerima keselamatan tersebut. Pelayanan, pengabdian, dan pengorbanan kita kepada Tuhan harus dilakukan dengan setia dan dengan motivasi kasih.

III. RATAPAN DAUD AKAN KEMATIAN SAUL
2 Samuel 1:21
“Hai gunung-gunung di Gilboa! Jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.”

Daud meratap atas kematian Saul. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa Daud begitu berdukacita atas kematian Saul?

INTI RATAPAN DAUD AKAN SAUL
Daud berdukacita karena Saul bukan semata-mata karena Daud kehilangan Saul. Tetapi Daud berdukacita karena janji Tuhan yang sedianya menetapkan kerajaan Israel atas Saul sepanjang hidup Saul. Namun Saul mati dengan cara yang tidak sesuai dengan rencana dan janji Tuhan.

1 Samuel 13:13
Samuel berkata kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu, sebab sediannya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.”

Masalah Saul bukan karena sejak awal ia adalah orang yang buruk. Masalahnya adalah Saul tidak setia kepada Tuhan. Hal ini terjadi karena Saul tidak setia membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Akibatnya, rencana Tuhan yang baik dan mulia itu tidak digenapi dalam Saul.

SIAPA SAUL?
Pertanyaan penting yang kemudian muncul: siapa dan bagaimanakah sebenarnya hidup dan kepribadian Saul sebelumnya? Sebab ternyata Saul pada awalnya adalah pribadi yang sangat berbeda dengan Saul yang kemudian kita kenal di akhir kehidupannya.

SAUL MENJADI CIPTAAN BARU
Sebenarnya Saul adalah pribadi yang sangat baik dan amat sangat ideal.
1 Samuel 10:6 – “Maka Roh Tuhan akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.”

Ada perubahan dalam diri Saul ketika Roh Tuhan berkuasa atas dirinya.
1 Samuel 10:10 – Ketika mereka sampai di Gibea, bertemulah Saul dengan serombongan nabi. Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka.

1 Samuel 10:11 – Orang-orang yang mengenal Saul sejak dahulu melihat dengan heran bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi.
Mereka berkata satu kepada yang lain “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apakah Saul juga termasuk golongan nabi?”

1 Samuel 10:12 – Kemudian muncul perkataan: “Siapakah bapa mereka…?”
Itulah sebabnya menjadi peribahasa: “Apa Saul juga termasuk golongan nabi?”

Kesimpulan
Saul adalah pribadi yang ideal. Jabatannya adalah seorang raja, tetapi cara hidup Saul seperti seorang nabi.

SAUL SEORANG YANG RENDAH HATI
Saul juga menunjukkan sikap rendah hati.

1 Samuel 10:15 – Paman Saul berkata: “Coba ceritakan kepadaku apa yang dikatakan Samuel kepada kamu…”

1 Samuel 10:16 – Saul menjawab pamannya: “Terus saja diberitahukannya kepada kami, bahwa keledai-keledai itu telah diketemukan.” Tetapi mengenai hal menjadi raja yang telah dikatakan Samuel kepadanya, Saul tidak menceritakannya kepada pamannya.

Bandingkan dengan:
1 Samuel 10:21–22
Dari bagian ini kita dapat melihat sikap Saul yang tidak langsung membanggakan dirinya atau kedudukannya sebagai orang yang dipilih menjadi raja.

SAUL MEMILIKI PENGUASAAN DIRI
1 Samuel 10:27 – Ada orang-orang dursila yang berkata: “Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!”

Mereka menghina Saul dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi Saul pura-pura tuli. Saul seolah-olah tidak mendengar ejekan atau hinaan dari sekelompok orang yang menghina dirinya.

Ketika Saul dilantik:
•          Ada pujian.
•          Ada sukacita.
•          Umat Israel bersorak-sorai.
•          Tetapi ada pula orang-orang yang memberikan komentar negatif terhadap Saul.
Mereka berkata: “Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita?”
Tetapi ketika Saul mendengar hal tersebut Saul tidak merasa sakit hati dan tidak menjadi marah. Sebaliknya Saul berpura-pura tuli. Ia seolah-olah tidak mendengar ejekan dan hinaan tersebut. Ini menunjukkan bahwa pada awalnya Saul memiliki penguasaan diri.

SAUL MEMILIKI ROH PENGAMPUNAN
1 Samuel 11:12
Bangsa itu berkata kepada Samuel: “Siapakah yang telah berkata: Masakan Saul menjadi raja atas kita? Serahkanlah orang-orang itu, supaya kami membunuhnya.”

Orang-orang yang hadir ketika Saul dilantik dan mendengar penghinaan dari orang-orang dursila tersebut kemudian mencari orang-orang yang menghina Saul. Tujuannya untuk membunuh orang-orang yang menghina Saul. Tetapi bagaimana reaksi Saul?

1 Samuel 11:13 – Saul berkata: “Pada hari ini seorang pun tidak boleh dibunuh, sebab pada hari ini Tuhan telah mewujudkan keselamatan kepada Israel.”

Saul sanggup meredam emosi dan niat orang-orang yang membela dirinya. Orang-orang tersebut ingin membunuh para penentang Saul. Namun Saul berkata bahwa Tuhan sudah memberikan keselamatan kepada Israel. Karena itu tidak boleh ada orang Israel yang harus mengalami kematian karena dibunuh.

Ini menunjukkan bahwa Saul pada awalnya memiliki:
•          Kerendahan hati
•          Penguasaan diri
•          Roh pengampunan
•          Hati yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan

MENGAPA SAUL BERUBAH?
Mengapa setelah Saul menjadi raja dan berkuasa, Saul berubah menjadi orang yang:
•          Jahat
•          Bengis
•          Garang
•          Sombong
•          Tidak memiliki kasih
•          Tidak memiliki kebaikan
•          Tidak memiliki kerendahan hati dalam hati dan hidupnya?
Penyebabnya adalah “Saul Tidak Mencari TUHAN.

2 Samuel 1:21 – “Hai gunung-gunung di Gilboa! Jangan ada embun, jangan ada hujan di atas kamu, hai padang-padang pembawa kematian! Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri, perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.”

Apa maksudnya Saul tidak diurapi dengan minyak? Tentara Israel naik ke gunung Gilboa untuk melumuri senjata mereka dengan minyak urapan. Tetapi Saul malas dan tidak melakukan ibadah secara rutin dan setia. Akibatnya Saul tidak lagi memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat penting: Bangunlah hubungan yang intim dengan Yesus dalam doa dan urapan Roh Kudus!

PELAJARAN UTAMA
Dari kehidupan Saul kita dapat melihat bahwa: Saul pernah menjadi pribadi yang ideal.

Ia pernah:
•          Dipenuhi Roh Tuhan.
•          Berubah menjadi manusia lain.
•          Rendah hati.
•          Memiliki penguasaan diri.
•          Mampu menahan emosi.
•          Memiliki roh pengampunan.
Tetapi kemudian terjadi perubahan dalam hidupnya. Mengapa? Karena Saul tidak mencari Tuhan. Ia tidak menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan. Akibatnya, kehidupan Saul yang awalnya baik dan ideal tidak berakhir sesuai dengan rencana Tuhan.

HUBUNGAN DENGAN TEMA: PELAYAN TUHAN YANG SETIA
Pelajaran dari Saul sangat berkaitan dengan kehidupan seorang pelayan Tuhan. Menjadi pelayan Tuhan bukan hanya tentang:
•          Memiliki jabatan.
•          Dipakai Tuhan.
•          Memiliki kemampuan.
•          Pernah mengalami urapan.
•          Pernah mengalami kuasa Roh Kudus.
•          Pernah melakukan pelayanan yang besar.
Tetapi yang sangat penting adalah tetap setia.
Kesetiaan harus dijaga sepanjang hidup.
Pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan harus dilakukan dengan: setia dan dengan motivasi kasih.
Dan kesetiaan tersebut tidak dapat dipisahkan dari hubungan yang intim dengan Tuhan. Karena itu jangan hanya memulai dengan baik, tetapi harus mengakhiri dengan tetap setia.

Pelajaran dari kehidupan Saul mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan hubungan pribadi dengan Tuhan. Karena itu bangunlah hubungan yang intim dengan Yesus dalam doa dan urapan Roh Kudus.

Jangan sampai pelayanan membuat kita sibuk melakukan pekerjaan Tuhan tetapi kehilangan hubungan pribadi dengan Tuhan. Yang Tuhan kehendaki bukan hanya orang yang memulai dengan baik, tetapi orang yang tetap setia sampai akhir.

Arsip Catatan Khotbah