RUANG TUNGGU seri 16 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1, 2 – Minggu, 10 Juli 2022)

SERI 16: TUHAN MENGHENDAKI KUALITAS PRIMA DAN HASIL YANG SEMPURNA
Yeremia 18:1-6

Pendahuluan
Tak seorangpun senang dengan menunggu, setiap orang ingin cepat, sesuatu instan dan jawaban-jawaban yang segera. Orang-orang yang berusaha berharap usahanya cepat maju, segara bertumbuh, mereka yang menjalani bisnis inginnya segera untung dan cepat berhasil. Yang sakit inginnya segera sembuh, yang miskin ingin cepat kaya, yang melakukan perjalanan ingin cepat sampai, yang berjuang ingin cepat menang, itulah kehidupan! 

Semua orang menginginkan hasil dengan cepat. Tetapi cara Tuhan tidak demikian, sebab Tuhan menginginkan kualitas yang prima dan hasil yang sempurna. Itulah sebabnya Tuhan menghantar kita masuk di ruang Tuhan, menjalani proses ilahi agar kelak mendapatkan hasil yang sempurna dengan kualitas prima.

Kepada nabi Yeremia Tuhan menunjukan cara untuk membentuk dan memperbaiki umat Israel yaitu seperti sang penjunan membuat bejana tanah liat. 

Ayat 6 dikatakan: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! 

Untuk mendapatkan sebuah bejana yang berkualitas sempurna, sang penjunan harus mengerjakannya dengan teliti dan mengikuti proses demi proses yang harus dijalani. Adapun proses pembentukan bejana tanah liat adalah sebagai berikut:

Fase 1 – Persiapan

  • Sang penjunan mengambil gumpalan tanah liat.
  • Kemudian tanah liat tersebut dibersihkan dari berbagai macam kotoran (batu-batu, kerikil dan sampah lainnya)
  • Dicampur sedikit air, tanah diinjak-injak, dibanting-banting, ditekan, diremas, dll. 
  • Lalu tanah liat itu biasanya direndam agar menjadi lebih lembek dan bisa dibentuk.
  • Didiamkan agar kadar air berkurang.

Fase 2 Pembentukan

  • Tanah liat diletakan di atas meja pembentukan yaitu sebuah meja berputar, yang dilengkapi pedal yang dapat mengatur kecepatan putar meja bulat di atasnya. 
  • Sambil terus diputar, tanah liat akan terus dibentuk oleh sang penjunan dengan cara ditekan, didorong, sehingga perlahan tanah liat akan terkikis dan terbentuk bejana yang diinginkan.
  • Bejana dikeringkan dan dihaluskan

Fase 3 – Pembakaran

  • Bejana dimasukan dalam dapur perapian dengan suhu diatas 1.000 derajat celcius agar bejana benar-benar kuat.
  • Dari perapian bejana dikeluarkan menjalani proses pendinginan.

Fase 4 – Pemajangan

  • Dari dapur api bejana ditempatkan ditempat-tempat yang mulia, digunakan untuk kesukaan tuannya.

Mengapa sebuah bejana harus melewati proses yang begitu panjang?

  1. Bejana dibentuk sesuai keinginan sang penjunan
    Ayat 4  Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya

Penjunan hanya menginginkan bejana yang baik menurut pemandangannya. Penjunan menghendaki hasil yang sempurna bukan sekedarnya hasilnya harus prima, istimewa, kualitas yang pertama bukan nomor dua. Kualitasnya harus yang nomor satu, bukan yang produk tipu-tipu. Selama penjunan belum mendapatkan hasil yang terbaik, maka proses akan terus berlanjut.

Hasil baik seperti apa yang diharapkan sang penjunan? 
Bagi orang-orang percaya hasil yang baik adalah menjadi serupa dengan Yesus. 
Roma 8:28,29  
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 

Tuhan menerima kita apa adanya, tetapi DIA tidak menginginkan kita seadanya. Tuhan menginginkan kita indah dalam pemandangannya. Tuhan rindu kita bertumbuh dewasa, menjadi sama seperti Dia, serupa dengan gambar AnakNya.

  • Pembentukan membutuhkan penyerahan
    Cepat atau lambatnya proses pembentukan sebuah bejana tergantung sikap dari tanah yang sedang dibentuk. Penyerahan kepada tangan penjunan akan mempercepat proses pembentukan. Sebaliknya pemberontakan hanya memperlambat proses pembentukan. Perlawanan membuat proses menjadi lebih panjang.

Menyerahlah kepada tangan Tuhan yang memproses hidupmu sebab Tuhan:

  • Tahu waktu yang tepat, 
  • Tahu cara yang tepat. 
  • Tahu bentuk yang tepat.

Roma 9:20  
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” 

Yesaya 45:9
Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: “Apakah yang kaubuat?” atau yang telah dibuatnya: “Engkau tidak punya tangan!” 

Jadilah seperti Ayub yang menang karena penyerahan. Ayub percaya penuh kepada Tuhan yang tahu jalan hidupnya. Apapun proses yang dialaminya ia yakin semua akan membentuknya menjadi seperti emas mulia.

Ayub 23:10
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. 

  • Setiap orang memiliki prosesnya sendiri-sendiri.
    Roma 9:21  
    Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa

Jangan iri dengan orang lain sebab setiap orang memiliki proses dan cara pembentukannya sendiri. Tujuan bejana digunakan menentukan proses yang diterima. Ada bejana yang digunakan untuk tujuan mulia tetapi ada juga untuk tujuan biasa. Yang mulia prosesnya lebih sulit, menyakitkan dan lama. Yang biasa tentu prosesnya biasa juga. Mana yang Anda pilih? Mulia atau biasa?

2Ti 2:20,21 
Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. 

  • Tuhan membentuk sampai bejana itu jadi.
    Ayat 4  
    Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. 

Tuhan tidak pernah menyerah, kegagalan, kerusakan, bukan alasan untuk menghentikan pembentukan. Firman Allah berkata: Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali. Tuhan membentuk kembali bejana yang rusak sampai jadi seperti yang dikehendaki. Inilah isi hati Tuhan ketika membentuk bejana hati kita.

Mazmur 34:19 
TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Yesaya 57:15 
Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

Kintsugi
Kintsugi adalah sebuah seni memperbaiki benda keramik yang pecah menjadi indah yang dilakukan oleh orang-orang Jepang. Caranya adalah dengan menyatukan kembali keramik yang pecah dengan lem, lalu menutupi bekas tambalan itu dengan cairan emas. Degan demikian keramik akan Nampak semakin indah dari bentuk aslinya.

Penutup
Jika engkau rasa hidupmu seperti keramik yang pecah, hatimu patah, bahkan matamu basah karena banyaknya duka dan penderitaan yang engkau alami. Ingatlah ada Tuhan yang selalu bersedia memperbaiki. Kegagalanmu tidak menggagalkan rencanaNya untuk membentukmu menjadi indah. Kehancuran yang engkau alami tidak akan pernah menghancurkan rencanaNya dalam hidupmu. Datanglah kepadaNya dan serahkanlah hidupmu ke dalam tanganNya, biarkan DIA membentukmu kembali menjadi bejana yang indah di pemandanganNya. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah