RUANG TUNGGU seri 17 : TUHAN MENUNTUN SELANGKAH DEMI SELANGKAH – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 25 September 2022)

Keluaran 17:1
Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi disana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

Pendahuluan
Perjalanan menuju tanah Kanaan bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang dialami selama perjalanan menuju Kanaan. Bahkan untuk sampai ke Kanaan bangsa Israel menghabislan waktu selama 40 perjalanan. Yang menarik dari catatan alkitab, ketika Allah menuntun bangsa Israel berjalan menuju Kanaan, Allah tidak langsung membawa bangsa Israel masuk Kanaan, tetapi menuntun mereka berjalan dari persinggahan ke persinggahan.

Berikut ini beberapa tempat yang menjadi tempat persinggah bangsa Israel menuju Kanaan.

  1. Rameses : Inilah asal mula bangsa Israel disuruh pergi dari Mesir (Kel. 12Bil. 33:5).
  2. Sukot : persinggahan pertama setelah bangsa Israel meninggalkan Rameses, sejak itu  Tuhan menyertai mereka dalam awan pada siang hari dan dalam tiang api pada malam hari (Kel. 13:20–22).
  3. Pi-Hahirot : Bangsa Israel melewati Laut Merah (Kel. 14Bil. 33:8).
  4. Mara : Tempat Tuhan menyehatkan air Mara yang pahitrasanya  (Kel. 15:23–26).
  5. Elim : Israel menikmati kelegaan karena di sini  ada 12 mata air yang memancar. (Kel. 15:27).
  6. Padang Belantara Sin : Tuhan mengirim manna dan burung puyuh untuk memberi makan bangsa Israel (Kel. 16).
  7. Rafidim : Israel berperang melawan Amalek (Kel. 17:8–16).
  8. Gunung Sinai : Tuhan mengungkapkan Sepuluh Perintah (Kel. 19–20).
  9. Padang Belantara Sinai : Israel membangun kemah suci (Kel. 25–30).
  10. Perkemahan Padang Belantara : Tujuh puluh penatua dipanggil untuk menolong Musa mengatur bangsa Israel.  (Bil. 11:16–17).
  11. Ezion-Geber : Israel melewati tanah Esau dan Amon dalam kedamaian (Ul. 2).
  12. Kadesh-Barnea Musa mengutus mata-mata ke tanah Kanaan. (Bil. 13:1–3, 17–331432:8Ul. 2:14).
  13. Padang Belantara Sebelah Timur : Israel menghindari konflik dengan Edom dan Moab (Bil. 20:14–2122–24).
  14. Sungai Arnon : Israel menghancurkan orang-orang Amori yang berperang melawan mereka (Ul. 2:24–37).
  15. Gunung Nebo : Musa melihat tanah perjanjian (Ul. 34:1–4).
  16. Dataran Moab : Tuhan memberi tahu Israel untuk membagi tanah Kanaan. (Bil. 33:50–56)
  17. Sungai Yordan : Israel menyeberangi Sungai Yordan di atas tanah kering. (Yos. 3:1–5:1).
  18. Yerikho : Bangsa Israel merebut dan menghancurkan kota Yerikho  (Yos. 6).

Perjalanan bangsa Israel menuju ke tanah Kanaan dari satu tempat persinggahan ke tempat persinggahan berikutnya adalah gambaran perjalanan kita menuju keberhasilan. Sebagaimana Israel merindukan tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya, demikian juga setiap kita merindukan kehidupan yang penuh dengan berkat-berkat Tuhan. Namun jalan untuk menuju ke sana tidak semudah membalikan tangan, selain jalan yang ditempuh itu panjang dan penuh tantangan, kita juga harus bersedia berhenti dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan.

Sadarilah tidak ada keberhasilan yang dapat diraih secara instan. Kita harus bersedia menjalani dan berhenti sejenak dari tempat persinggahan yang satu ke tempat persinggahan lainnya. Dalam hidup ini tidak ada lift keberhasilan, kita harus bersedia menaiki anak tangga demi anak tangga menuju keberhasilan. Percayalah bahwa sukses butuh proses. 

Mengapa Tuhan tidak menuntun bangsa Israel langsung menuju Kanaan, tetapi harus berhenti dari satu persinggahan ke tempat persinggahan yang lain?

  1. Setiap orang punya batasan, semua perjalanan butuh peristirahatan
    Setiap orang harus menyadari bahwa manusia memiliki batasan kemampuan. Tidak ada manusia super yang mampu segala-galanya. Tubuh kita memiliki batas kemampuannya, usia terbatas, tenaga terbatas, intelek terbatas, uang, kekayaan, jabatan dll. Percayalah,  semua ada batasnya. Lihatlah apa yang terjadi di masa pandemi, betapa lemahnya manusia. Dengan virus Corona semua lumpuh, ekonomi, kesehatan, hubungan sosial, menjadilupuh. Ini bukti nyata bahwa manusia ada batasnya. Menyadari akan keterbatasan inilah, maka Tuhan menuntun bangsa Israel dari satu persinggahan ke tempat persinggahan agar mereka bisa beristirahat sejenak. 

Inilah prinsip hidup yang perlu kita jalani bahwa dalam perjalanan terkadang kita harus berhenti bukan untuk mengakhiri, tetapi menyegarkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan kembali. Meski Allah tidak terbatas, namun ketika Ia telah selesai menciptakan langit dan bumi Allah beristirahat pada hari ketujuh.

Kej. 2:2- 3 
Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. 

Demikian juga dengan Tuhan Yesus, dalam kemanusiaanNya Ia berhenti sejenak untuk beristirahat.

Markus 6:31  
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. 

Seimbangkanlah hidup ini antara bekerja dan beristirahat, karena keseimbangan adalah kunci kebahagiaan. Saat bekerja, bekerjalah dengan sekuat tenaga, saat istirahat, beristirahatlan dengan baik. Ingatlah, bekerja tanpa istirahat adalah perbudakan, istirahat tanpa bekerja adalah kesia-siaan.

2. Jika Tuhan membuka semua jalan, kita akan ketakutan
Jika Tuhan menunjukan seluruh jalan yang akan dilalui dengan segala berkat dan tantangan yang dihadapi, bisa jadi bangsa Israel tidak akan berani menjalani. Itulah sebabnya Tuhan memimpin bangsa Israel berjalan menuju Kanaan dari satu persinggahan kepada tempat pesinggahan berikutnya.

Ulangan 29:29  
Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” 

3. Agar kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan
Kel. 13:20 – 22  
Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu. 

Bangsa Israel tidak tahu jalan menuju Kanaan. Ini ada perjalanan baru yang mereka tempuh setelah 400 th menjadi budak di Mesir. Agar mereka dapat sampai ke Kanaan,  Allah menuntun mereka dengan pimpinan tiang awan dan tiang api. Saat tiang awan atau tiang api berhenti, mereka harus berhenti, saat tiang awan atau tiang api bergerak mereka harus segera melangkah. Jadi keberhasilan perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan semata-mata hanya bergantung kesediaan mereka mengikuti tuntunan tiang awan dan tiang api. 

Jika engkau rasa cara Tuhan begitu lama, tidak membuka semua jalan, tidak menunjukan semua cara, tetapi memimpinmu dari persinggahan ke tempat persinggahan, percaya itu dipilihnya agar kita bergantung penuh kepadaNYA.

Amsal 20:24  
Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya? 
Perjalanan hidup memang tidak selalu mudah, bahkan kadang-kadang kita lelah, tetapi orang yang bergantung kepada Tuhan langkahnya tak pernah salah.

4. Hal-hal besar dimulai dari hal kecil.
Keberhasilan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan ditentukan dari kesediaan mereka melewati dari satu persinggahan ke persinggahan lainnya.

Matius 25:21  
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 

Ketahuilah, keberhasilan sejati adalah akumulasi keberhasilan-keberhasilan kecil yang diciptakan setiap hari. Orang-orang yang sukses dengan perkara-perkara kecil, kepadanya dipercayakan perkara-perkara yang besar. Sebab itu jangan abaikan hal-hal kecil, karena itu adalah penentu keberhasilanmu. Percayalah, untuk membuka pintu yang besar hanya dibutuhkan sebuah kunci yang kecil. Setialah dengan perkara kecil!

5. Tuhan tertarik kepada karakter bukan berkat.
Ulangan 8:2  
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 

Masa depan yang penuh kebahagiaan telah terpampang di depan. Tanah Kanaan yang dijanjikan adalah tanah yang subur, melimpah dengan susu dan madu. Namun demikian kemampuan untuk menikmati berkat Tuhan tergantung dari karakter yang mereka miliki. Untuk itulah Tuhan menuntun bangsa Israel dari satu persinggahan kepada persinggahan  yang lain segala macam pengalaman yang terjadi adalah untuk membentuk karakter mereka. 

Bagi Tuhan yang utama bukan hanya mempersiapkan berkat, tetapi mempersiapkan karakter yang hebat. Mengapa? Karena “Karakter menentukan kualitas kehidupan.” Kualitas hidup tidak diukur karena seseorang itu pinter, tetapi kualitas hidup ditentukan oleh karakter. Contoh : Daud. Daud dipilih Tuhan bukan karena pintar, gagah, atau prajurit yang hebat. Daud dipilih Tuhan karena ia memiliki karakter yang hebat.

Untuk mendapatkan karakter yang hebat, Tuhan membawa umat Israel dari persinggahan ke persinggahan lainnya. Mengapa?

  • Karakter tidak dihasilkan dalam waktu semalam, karena dibentuk melalui proses panjang.
  • Karakterk tidak dibentuk melalui pengetahuan, tetapi oleh pengalaman
  • Karakter tidak dikembangkan dalam kesenangan dan kemudahan, karakter berkembang melalui kesulitan dan berbagai tantangan.

Penutup
Rancangan Tuhan yang mulia dan hari depan yang penuh harapan, hanya disediakan bagi orang-orang yang bersedia berjalan dari persinggahan ke tempat persinggahan. Sabarlah sejenak, nantikan di ruang tungguNya, percayalah di akhir semua perjalanan telah tersedia berkat-berkat Tuhan yang penuh kelimpahan. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah