Stewardship – Oleh: Pdt. K. Hani. Paulus (Ibadah Raya 2, 3 – Minggu, 8 Mei 2022)

Stewardship adalah pekerjaan perihal mengurus, memelihara, dan mengelola milik kepunyaan orang lain. Orang yang melakukannya disebut Steward atau Manajer.

Roh Allah / Nafas Kehidupan yang Allah berikan kepada Adam adalah Roh Pemimpin yang didalamnya sudah memiliki kecakapan, kemampuan dan kesanggupan untuk mengelola dan mengurus apa yang Tuhan percayakan kepada manusia. Itu sebabnya kita tidak mendengar Adam protes ataupun komplain kepada Tuhan atas apa yang Allah perintahkan kepadanya.

Mari kita lihat, apa yang Tuhan percayakan kepada Manusia?

  • Segala jenis binatang, dengan tugas BERKUASALAH atas mereka.
    Kejadian 1:26 (TB)  Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Inilah Roh Pemimpin yang diberikan oleh Allah kepada manusia, suatu kuasa untuk mengelola dan mengatur; dan suatu kuasa yang dipakai untuk melayani (lihat bahasan tentang Leadership Spirit).

  • Taman Eden, dengan tugas MENGUSAHAKAN dan MEMELIHARA.
    Kejadian 2:15 (TB)  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Taman Eden adalah sebuah tempat yang sangat indah dan menyenangkan. Terdapat pohon-pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya (Kej 2:9). Sebuah taman yang sempurna bagi manusia.

Taman ini dipercayakan kepada manusia untuk dikelola, diusahakan dan dipelihara (Stewardship), bukan untuk dimiliki Manusia (Ownership). 

Mari kita mendalami hal ini.

  • Memelihara: Menjaga, mempertahankan, mengurus, agar tetap terawat (Maintaining). 
    Taman Eden ini begitu indah dan menyenangkan. Suasana seperti ini merupakan tanggung jawab manusia untuk dipelihara. Apa yang Allah perintahkan, Adam punya kesanggupan untuk melakukannya.
  • Mengusahakan: Mengerjakannya, menggarap (tanah), Diolah untuk ditanami benih (Cultivated) menjadi lebih baik lagi (Potensi). 
    Perintah yang pertama ini terasa cukup berat, mengapa? Bukankah taman Eden sebuah taman pemberian Allah yang sudah sempurna? 

Perintah ini mengindikasikan bahwa apa yang diberikan Allah kepada manusia, masih punya potensi untuk dikembangkan. Mampu dikelola manusia menjadi lebih baik lagi. Di dalam setiap buah-buah yang ada di taman itu terkandung biji-bijian yang dapat dijadikan benih, yang artinya punya potensi untuk berkembang menjadi pohon lagi.

Sewaktu kejatuhan Manusia ke dalam Dosa, Roh Pengelola seperti ini berubah menjadi ‘Spirit’ of Ownership, kepemilikan secara pribadi. Apa yang Allah percayakan kepada manusia untuk dikelola, sekarang diklaim menjadi milik manusia karena usaha dan kerja keras manusia.

  • Contoh pribadi-pribadi yang mengklaim kepemilikan milik mereka sendiri atas apa yang dipercayakan Tuhan: 
    -Raja Nebukadnezar, Daniel 4:28-33
    -Raja Herodes, Kisah Para Rasul  12:21-23 
    -Orang muda yang kaya, Matius 19:21-22

Mat 19:21  Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” 

Mat 19:22  Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 

Orang muda yang kaya ini tidak lulus dalam ujian menjadi warga Kerajaan Surga, karena harta yang diklaim sebagai milik kepunyaannya.

Sebenarnya sangat sehat bagi jiwa kita mengakui semua adalah milik Tuhan, dengan demikian kita lepas dari pada kekuatiran akan tipu daya kekayaan. Dan Tuhan mau pengakuan kita atas kepemilikan yang ada pada kita.

  • Contoh pribadi-pribadi yang mengalami pemulihan pengakuan atas milik kepunyaannya:
    -Raja Daud, 1 Tawarikh 29:10-12
    -Zakheus, Lukas 19:8-9
    Luk 19:8  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 

Luk 19:9  Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. 

Kita tidak tahu apa yang dipercakapkan antara Yesus dengan Zakheus. Tetapi yang jelas tidak ada paksaan dari Yesus.Yang kita ketahui adalah reaksi Zakheus setelah percakapan itu. Zakheus merdeka dari rasa kepemilikan yang selama ini mengikat dia.

  • Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat – tidak boleh dimakan.
    Gambaran yang sangat baik mengenai kepemilikan ini adalah taman Eden.
    Manusia datang tidak membawa apa-apa. Mengindikasikan bahwa kepemilikan adalah kepunyaan Tuhan dipercayakan kepada manusia. Untuk sekedar mengingatkan Adam adalah pengelola dari taman itu dan bukan pemilik, Allah memberikan sebuah pohon yang tidak boleh dimakan buahnya, yaitu pohon pengetahuan baik dan jahat. Kalau sampai dimakan, akan menyebabkan kematian kepada manusia.

Pelajaran Stewardship
Tuhan = Adonai (Ibrani) = Kurios (Yunani) = Lord (Inggris) = Tuan (Bahasa Indonesia)
Seharusnya kita menyadari, setiap kali kita memanggil Dia dengan sebutan Tuhan (Tuan) itu berarti pengakuan bahwa Dialah Pemilik segala sesuatu. 

Mazmur 24:1  “Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

1 Kor 4:7  “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”

Seharusnya sikap kita dalam mengelola milik kepunyaan orang lain yang dipercayakan kepada kita adalah :
“Untuk apa Tuhan memberkati aku?” 
“Apa yg Tuhan ingin lakukan dengan uang-Nya?”


Disini ada pertanggung jawaban yang dituntut dari kita. 
Matius 25:14-30 (Tentang Talenta). Akan dituntut pertanggung jawaban atas apa yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola. Talenta yang kita miliki punya potensi untuk dikembangkan lebih banyak lagi. Kita akan kehilangan apa yg tidak dapat dikelola. Apa yang tidak mampu kita kelola akan diambil dari diri kita dan dipercayakan kepada orang yang dapat mengelolanya.

Setia disini dalam arti yang aktif.. Produktif dalam menghasilkan buah. Setia tetap bertumbuh, setia untuk punya peningkatan senantiasa.

Dipercayakan harta milik kita, 
Luk 16:12  “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”
Bukankah semua kepemilikan Dia yang punya? Lalu dimanakah harta sejati milik kita? 

Mat 19:21  Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” 

Harta sejati kita adalah ketika kita sudah berada dalam Kerajaan Surga. Saat kedatangan-Nya kembali, Dia akan membagi-bagikan milik kepunyaan kita.

Sekarang kita bisa memilikinya juga. Apakah itu? Yesus adalah harta sejati kita. Dia akan karuniakan kebahagiaan, rasa cukup, rasa puas yang di dalamnya ada berkat Tuhan yang melimpah buat kita.

Kesimpulan
Jadilah pengelola / pengurus yang baik dari apa yang dipercayakan kepada kita, bukan untuk menjadi milik pribadi kita tapi bagi kepentingan-Nya, kepentingan Kerajaan-Nya. Amin

Arsip Catatan Khotbah